NalarSulut—Nama Fadli Paputungan ikut mencuri perhatian dalam agenda besar Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Nasional Tani Merdeka Indonesia (TMI) yang digelar di Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP) Ciawi, Bogor, Jawa Barat.
Di tengah berkumpulnya lebih dari 250 ketua DPW dan pengurus Tani Merdeka Indonesia dari 38 provinsi se-Indonesia, Ketua DPD TMI Kotamobagu itu hadir membawa semangat petani Totabuan ke forum nasional yang menjadi ajang konsolidasi besar sektor pertanian Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, sejak 14 hingga 17 Mei 2026 tersebut menjadi momentum strategis penguatan kapasitas organisasi, penyamaan visi, hingga konsolidasi nasional dalam mendukung pembangunan pertanian Indonesia.
Atmosfer diklat terasa begitu dinamis. Pengurus dari Aceh hingga Papua duduk bersama membahas berbagai tantangan pertanian nasional, mulai dari pupuk, produktivitas lahan, pemasaran hasil tani, hingga ancaman krisis regenerasi petani muda.
Di forum itulah, Fadli Paputungan ikut menyuarakan pentingnya penguatan petani di daerah, khususnya di wilayah Totabuan yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Sulawesi Utara.
“Ini bukan sekadar kegiatan organisasi. Kami datang membawa aspirasi petani daerah agar pembangunan pertanian benar-benar menyentuh masyarakat hingga ke desa,” ujar petani Bawang Merah itu.
Menurutnya, diklat nasional tersebut membuka ruang besar bagi pengurus daerah untuk memperkuat wawasan kepemimpinan, strategi organisasi, hingga pemahaman terhadap arah kebijakan pemerintah pusat di sektor pertanian.
Kegiatan itu juga dihadiri langsung Ketua Dewan Pembina DPN Tani Merdeka Indonesia yang juga Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono.
Dalam arahannya, Sudaryono menegaskan bahwa Tani Merdeka Indonesia memiliki peran penting dalam mengawal program Presiden Prabowo Subianto hingga ke tingkat desa.
“Program Presiden harus sampai ke tingkat desa,” tegas Sudaryono di hadapan peserta diklat nasional.
Sementara itu, Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir, menekankan bahwa organisasi harus menjadi kekuatan nyata di tengah masyarakat petani.
Menurutnya, pengurus daerah merupakan ujung tombak organisasi karena langsung bersentuhan dengan persoalan riil di lapangan.
Bagi Fadli Paputungan, agenda nasional tersebut menjadi energi baru untuk memperkuat gerakan Tani Merdeka Indonesia di Kotamobagu dan wilayah Totabuan secara umum.
Ia menilai tantangan pertanian ke depan semakin kompleks, sehingga dibutuhkan organisasi yang solid, adaptif, dan mampu menjadi jembatan antara petani dan pemerintah.
“Sepulang dari diklat ini, kami ingin membangun gerakan yang lebih nyata. Petani harus naik kelas, lebih mandiri, dan punya akses yang lebih baik terhadap program pemerintah,” tandas jebolan Petani Unggulan Bank Indonesia (PUBI) Sulut itu.
Keikutsertaan Fadli Paputungan di forum nasional itu sekaligus menjadi sinyal bahwa suara petani dari Totabuan mulai diperhitungkan dalam konsolidasi besar pertanian Indonesia. (*)





