NalarSulut—Langkah berani kembali ditunjukkan pasangan Bupati dan Wakil Bupati Bolaang Mongondow, Yusra Alhabsyi dan Dony Lumenta. Di tengah keluhan klasik soal modal yang terus menghantui petani, duet yang dikenal dengan jargon Yusra–Dony ini mulai membuka “kran harapan” lewat program Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Program tersebut disampaikan langsung Bupati Yusra Alhabsyi saat turun berdialog dengan masyarakat petani di Desa Sinsingon, Kecamatan Passi Timur, Kamis (7/5/2026). Kehadiran orang nomor satu di Bolmong itu disambut antusias para petani yang selama ini bergelut dengan mahalnya biaya produksi dan sulitnya akses permodalan.
“Salah satu masalah petani itu modal. Karena itu, kami sudah berkoordinasi dengan Bank SulutGo, tahun ini tersedia dana KUR untuk membantu petani,” tegas Yusra di hadapan warga.
Yang membuat program ini mencuri perhatian adalah skema pengembaliannya yang dinilai ringan dan ramah petani. Untuk pinjaman Rp5 juta, petani tidak perlu memberikan jaminan apa pun. Saat panen, pengembaliannya hanya sekitar Rp5.150.000, dengan bunga sekitar Rp150 ribu.
Tak hanya itu, pemerintah bahkan menyiapkan pola jemput bola. Tim dari pemerintah daerah bersama pihak bank akan langsung turun ke rumah-rumah warga untuk melakukan pendataan hingga penandatanganan kontrak pinjaman.
Menariknya lagi, dana KUR tidak diberikan dalam bentuk uang tunai. Sistemnya diarahkan langsung untuk kebutuhan pertanian.
“Kalau petani butuh pupuk atau perlengkapan kebun, tinggal digesek langsung di toko pertanian sesuai kebutuhan,” jelas Yusra.
Untuk tahun ini, sebagai role model itu, BSG, siap membantu pinjaman modal KUR untuk 1.000 petani.
“Tahun depan itu, akan ditambahkan kuotanya, bila administrasi para petani itu baik,” tukasnya.
Skema ini dinilai mampu meminimalisir penyalahgunaan dana sekaligus memastikan modal benar-benar dipakai untuk produktivitas pertanian.
Bagi para petani, program ini bukan sekadar bantuan keuangan, tetapi jawaban atas tekanan ekonomi yang selama ini membelit mereka.
Sekretaris Kelompok Tani Sibong, Abdi Mokoginta, mengaku sangat terbantu dengan langkah yang diambil pemerintah daerah.
“Biasanya kalau pinjam uang, pengembaliannya sangat tinggi. Kami setor Rp125 ribu setiap minggu sampai 50 kali. Itu cukup tinggi bagi petani,” ungkap Mokoginta.
Petani kentang itu, mengaku terharu karena baru kali ini seorang bupati datang langsung mendengar keluhan petani di lapangan.
“Ini pertama kali Bupati turun langsung dan mendengarkan kendala kami. Kami merasa benar-benar diperhatikan,” katanya.
Langkah Yusra–Dony ini dinilai menjadi sinyal kuat bahwa sektor pertanian mulai ditempatkan sebagai prioritas utama pembangunan daerah. (*)





