• Redaksi
  • Privacy & Policy
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
Sabtu, 15 Agustus 2026
NALARSULUT.id | Kritis Mengupas, Jelas Mengabarkan
  • BERANDA
  • KOTAMOBAGU
  • BOLSEL
  • BOLMONG
  • BOLMUT
  • BOLTIM
  • SULUT
  • NASIONAL
  • ADVERTORIAL
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • KOTAMOBAGU
  • BOLSEL
  • BOLMONG
  • BOLMUT
  • BOLTIM
  • SULUT
  • NASIONAL
  • ADVERTORIAL
No Result
View All Result
NALARSULUT.id | Kritis Mengupas, Jelas Mengabarkan
No Result
View All Result

Dugaan Material Buangan PT BDL Disorot Pascatragedi Bolingongot, Akademisi Buka Suara

Agus Santosa Budiharso: Tanah kupasan harus diawasi

30 Juni 2026
A A
Dugaan Material Buangan PT BDL Disorot Pascatragedi Bolingongot, Akademisi Buka Suara

Kepala Pusat Kajian Bencana dan Pengembangan Sumberdaya Alam Universitas Prisma Manado, Agus Santosa Budiharso menanggapi peristiwa tanah longsor di Bolingongot/Patung Desa Mopait Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolmong. (Kolase foto Rinaldi Potabuga/nalarsulut.id)

BagikanBagikan

NalarSulut— Tragedi longsor maut yang menewaskan dua penambang tradisional di kawasan pertambangan Bolingongot/Patung, Desa Mopait, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), mulai memunculkan pertanyaan besar mengenai sumber material longsoran yang menerjang lokasi tersebut.

Di tengah proses pencarian korban dan penyelidikan yang masih berlangsung, salah satu korban selamat, Agung Tamimu, mengungkapkan dugaan bahwa material longsor bukan berasal dari lubang tambang tempat mereka bekerja, melainkan diduga berasal dari timbunan material buangan di area yang lebih tinggi.

Agung, yang menjadi satu dari enam orang yang berhasil lolos dari maut, mengaku menyaksikan langsung arah datangnya longsoran saat peristiwa itu terjadi pada Kamis (25/6/2026) malam.

“Tanah longsor itu bukan di lokasi lubang yang kami kerja. Melainkan, dugaan material buangan perusahaan PT BDL yang berada di atas lokasi daseng atau gubuk tempat kami beristirahat,” ujar Agung.

Dalam insiden tersebut, delapan penambang berada di sekitar lokasi. Enam orang berhasil menyelamatkan diri, sementara dua lainnya tertimbun material longsor. Hingga kini satu korban telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sedangkan satu korban lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan.

Meski dugaan itu telah disampaikan oleh korban selamat, hingga berita ini ditulis pihak manajemen PT Bulawan Daya Lestari (BDL) belum memberikan tanggapan resmi. Upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan kepada pihak manajemen melalui pesan WhatsApp kepada Ronal Saweho belum memperoleh jawaban.

Terpisah, akademisi sekaligus Kepala Pusat Kajian Bencana dan Pengembangan Sumber Daya Alam Universitas Prisma Manado, Agus Santosa Budiharso, menilai tragedi tersebut harus dibaca secara ilmiah.

Menurutnya, kesaksian para korban selamat merupakan informasi penting yang dapat menjadi pintu masuk dalam proses investigasi, namun tetap harus diverifikasi melalui kajian geologi dan geomorfologi secara menyeluruh.

“Berdasarkan kesaksian korban, terdengar suara pohon patah, kemudian tanah mulai bergerak, diawali aliran air sebelum material tanah turun. Kesaksian ini penting, bukan untuk mendahului penyelidikan resmi, melainkan sebagai pintu masuk membaca kejadian dari sudut pandang geologi dan geomorfologi,” jelas Agus.

Ia menerangkan bahwa dalam ilmu geomorfologi, longsor merupakan bagian dari gerakan massa, yakni perpindahan batuan, tanah, maupun material rombakan dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah akibat pengaruh gravitasi.

Mengutip kajian ilmiah Khamkar dan Mhaske, Agus menjelaskan bahwa air hampir selalu berperan dalam proses gerakan massa, sementara aktivitas manusia juga dapat menjadi salah satu faktor yang memicu kegagalan lereng.

Karena itu, menurutnya, penyelidikan harus difokuskan pada berbagai aspek teknis.

“Yang harus dijawab adalah bagaimana bentuk lerengnya, dari mana material bergerak, bagaimana pola aliran air, apakah terdapat retakan, bagaimana tingkat kemiringan lereng, apakah ada timbunan material lepas, hingga mengapa lokasi daseng berada pada jalur yang dapat diterjang longsoran. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jauh lebih penting daripada terburu-buru menarik kesimpulan,” tegasnya.

Material Kupasan Harus Diawasi

Agus juga menyoroti istilah “tanah kupasan” material kupasan bukan berarti selalu berbahaya, namun dapat berubah menjadi ancaman serius apabila ditempatkan pada lokasi yang tidak tepat.

“Bila tanah kupasan ditimbun di lereng yang curam, berada dekat jalur aliran air, tanpa sistem drainase yang baik, atau berada di atas area aktivitas manusia, material tersebut berpotensi menjadi sumber bahaya. Saat jenuh oleh air, kekuatan material akan berkurang dan dapat bergerak sangat cepat,” paparnya.

Karena itu, ia mendorong dilakukannya audit geomorfologi dan geoteknik secara menyeluruh, bukan untuk mencari pihak yang dipersalahkan, melainkan sebagai langkah pencegahan agar tragedi serupa tidak kembali memakan korban jiwa.

Bagi Agus, tragedi Bolingongot harus menjadi momentum memperkuat budaya mitigasi bencana di seluruh kawasan pertambangan yang berada di wilayah berlereng.

Ia menegaskan bahwa keselamatan pekerja tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman di lapangan. Pengelolaan kawasan harus didukung dengan peta kerawanan, data curah hujan, pemantauan retakan tanah, sistem drainase yang memadai, serta penetapan zona aman dan jalur evakuasi yang jelas.

“Peta kerawanan tidak boleh hanya menjadi dokumen di atas meja. Ia harus menjadi dasar dalam menentukan lokasi kerja, tempat istirahat, jalur evakuasi, hingga keputusan menghentikan aktivitas ketika muncul tanda-tanda bahaya,” pungkasnya. (*)

Komentar Facebook
Previous Post

Kesaksian Korban Selamat Ungkap Detik-Detik Longsor Maut di Bolingongot Bolmong

Next Post

Cegah Pembangunan Tersandung Kasus, Kamaru Gandeng Kejari Kotamobagu Perkuat Benteng Hukum

Next Post
Cegah Pembangunan Tersandung Kasus, Kamaru Gandeng Kejari Kotamobagu Perkuat Benteng Hukum

Cegah Pembangunan Tersandung Kasus, Kamaru Gandeng Kejari Kotamobagu Perkuat Benteng Hukum

BNNP Sulut Bongkar Jaringan Sabu di Bolsel, Bupati Iskandar Desak Pejabat dan DPRD Tes Urine

BNNP Sulut Bongkar Jaringan Sabu di Bolsel, Bupati Iskandar Desak Pejabat dan DPRD Tes Urine

10 Agustus 2026
KPH Bongkar Jejak Tambang Ilegal di Lokosina, Ekskavator Terendus dan Pemodal Diburu

KPH Bongkar Jejak Tambang Ilegal di Lokosina, Ekskavator Terendus dan Pemodal Diburu

10 Agustus 2026
BNI Perkuat Ekosistem Danantara, Kredit Rp968,5 Triliun Dorong Pelaku Usaha Makin Maju

BNI Perkuat Ekosistem Danantara, Kredit Rp968,5 Triliun Dorong Pelaku Usaha Makin Maju

9 Agustus 2026
Yusra-Dony Bawa Bolmong ke Puncak, Nilai Ombudsman Tertinggi se-Sulut Tuai Apresiasi Gubernur

Yusra-Dony Bawa Bolmong ke Puncak, Nilai Ombudsman Tertinggi se-Sulut Tuai Apresiasi Gubernur

4 Agustus 2026
Rekam Jejak Moncer, Yusra-Dony Pilih Iqbal Hamenda Isi Jabatan Strategis di Disdik Bolmong

Rekam Jejak Moncer, Yusra-Dony Pilih Iqbal Hamenda Isi Jabatan Strategis di Disdik Bolmong

4 Agustus 2026
  • Redaksi
  • Privacy & Policy
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
© 2024 NALARSULUT.id

Developed by Pratama Connection

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • KOTAMOBAGU
  • BOLSEL
  • BOLMONG
  • BOLMUT
  • BOLTIM
  • SULUT
  • NASIONAL
  • ADVERTORIAL

Developed by Pratama Connection