NalarSulut— Potensi wisata bahari Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) mulai dilirik sebagai salah satu kekuatan ekonomi masa depan. Tak ingin sekadar mengandalkan keindahan alam, pemerintah daerah bersama DPRD kini mencari model pengelolaan pariwisata yang mampu mendatangkan wisatawan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Keseriusan itu terlihat saat Wakil Ketua DPRD Bolsel Jelfi Djauhari, Ketua Komisi II Zulkarnain Kamaru, bersama sejumlah anggota DPRD turun langsung dalam studi lapangan pengembangan wisata bahari di Destinasi Wisata Hiu Paus, Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, Kamis (22/10/2026).
Kunjungan yang dipimpin Wakil Bupati Bolsel Deddy Abdul Hamid tersebut bukan sekadar agenda studi banding. Kegiatan ini merupakan bagian dari penyusunan kajian strategis pemetaan potensi daerah dan analisis komplementer rintisan kerja sama Sister City antara Pemerintah Kabupaten Bolsel dan Kota Nakanoto, Prefektur Ishikawa, Jepang.
Destinasi Hiu Paus Botubarani dipilih sebagai lokasi pembelajaran untuk melihat bagaimana sebuah potensi wisata bahari dapat dikelola dengan memperhatikan konservasi lingkungan, tata kelola destinasi, serta keterlibatan masyarakat lokal.
Bagi Bolsel, pengalaman tersebut menjadi penting. Daerah ini memiliki kekayaan bahari, mulai dari panorama bawah laut hingga sejumlah titik penyelaman yang berpotensi menjadi magnet wisatawan. Namun, potensi besar itu membutuhkan perencanaan, pengelolaan, dan promosi yang terarah agar tidak berhenti sebagai kekayaan alam semata.
Ketua Komisi II DPRD Bolsel, Zulkarnain Kamaru, menegaskan bahwa pengembangan pariwisata harus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, sektor ini memiliki peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan.
“DPRD tentu mendukung langkah pemerintah daerah dalam memetakan dan mengembangkan potensi pariwisata Bolsel. Kita memiliki kekayaan wisata bahari, mulai dari keindahan bawah laut hingga sejumlah titik penyelaman yang berpotensi menjadi daya tarik wisatawan,” ujar Zulkarnain.
Ia menilai, pengelolaan wisata Hiu Paus Botubarani dapat menjadi referensi bagi Bolsel dalam membangun destinasi yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu menjaga kelestarian lingkungan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Lebih jauh, Zulkarnain memandang rintisan kerja sama Sister City dengan Kota Nakanoto, Jepang, sebagai peluang strategis untuk memperluas wawasan, bertukar pengalaman, dan membuka ruang kolaborasi pengembangan pariwisata maupun sektor unggulan lainnya.
Namun, menurutnya, hasil kajian dan kunjungan lapangan tidak boleh berhenti sebagai dokumen atau seremoni semata. Harus ada tindak lanjut melalui kebijakan dan program yang jelas.
“DPRD melalui fungsi pengawasan, penganggaran, dan legislasi akan terus mendorong agar hasil kajian pengembangan potensi daerah dapat ditindaklanjuti melalui program yang konkret dan terukur,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Deddy Abdul Hamid menyampaikan bahwa Bolsel perlu belajar dari daerah yang telah berhasil mengembangkan destinasi wisata. Pembelajaran tersebut mencakup tata kelola, pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, hingga keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Deddy berharap, melalui perencanaan matang dan sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, perangkat daerah terkait, tenaga ahli, serta mitra internasional, sektor pariwisata Bolsel dapat berkembang menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah.
Studi lapangan ini sekaligus menjadi momentum untuk menyatukan langkah eksekutif dan legislatif dalam merancang masa depan pariwisata Bolsel.
Sebab, tantangan sesungguhnya bukan hanya memperkenalkan keindahan bahari Bolsel kepada dunia, melainkan memastikan kekayaan alam tersebut tetap lestari, dikelola secara profesional, dan mampu membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal. (Infotorial)






