NalarSulut—Langit cerah, jalan yang berliku-liku dan tanjakan jadi bagian dari perjalanan menuju Desa Lanud, Kecamatan Modayag, Kabupaten Bolmong Timur (Boltim).
Setiba di lokasi Blok Lanud, pemandangan pepohonan yang mulai rindang terlihat. Dibalik itu, tersimpan cerita sunyi cocofiber dan cocomesh yang bekerja sebagai ‘penjaga’ di tanah yang pernah terluka.
Di area reklamasi pasca tambang yang dikelola oleh PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM), cocofiber dan cocomesh jadi fondasi awal kehidupannya berbagai tanaman/pepohonan yang ada.
Dari Gersang Menuju Hijau: Reklamasi Blok Lanud Perubahan yang Pelan tapi Nyata
Perubahan di Lanud tidak instan. Bayangkan hamparan luas bukaan lahan 182.15 hektare. Tanah yang begitu lesu, kering, tandus dan bahkan minim akan unsur hara.

Warna coklat alami itu seperti selimut menutupi tanah. Dalam sunyi, fungsi cocoviber dan cocomesh sangat krusial bagi penghidupan baru tanaman/pepohonan. Perlahan tapi nyata, terlihat tunas hijau muda mulai hidup di sela-sela cocoviber.
Supervisor EHS Foresty
PT RAKTA, Faghira Muhammad Ghazani mengatakan reklamasi pasca tambang Blok Lanud, menggunakan cocoviber dan cocomesh.
“Dua bahan itu merupakan produk turunan dari sabut kelapa,” katanya, saat diwawancarai, di lokasi Pit Rasik, Selasa (28/4/2026).
Bahan alami dari sabut kelapa itu, nampak seperti alas tanah di Pit Rasik, yang dulunya merupakan salah satu pusat produksi emas di Blok Lanud.

“Iya, cocoviber di hamparkan seperti itu, agar tanaman bisa merambat,” ujar kontraktor pascatambang itu.
Luas Pit Rasik, kurang lebih sekitar 10 hektare, bila dihitung sampai dengan tebingnya. Katanya, untuk cocomesh yang berupa jaring itu, dibentangkan mengikuti kontur tebing.
“Kita mulai nanam di Pit Rasik itu, sekitar bulan Juli-Agustus tahun 2025. Dan tanaman yang ditanam itu berupa: pohon minyak kayu putih, cemara laut, sengon, beringin, pohon ketapang dan jenis lainnya,” jelasnya.
Di Pit Rasik ada berkisar 8-9 ribu pohon telah ditanami. Diakuinya, pertumbuhannya juga disini sangat baik.
“Mungkin salah satu faktor hujan yang cukup. Sebab, biasanya di Pit Rasik hujan, di wilayah lainnya tidak hujan,” jelasnya.

Metode penanaman yang digunakan, kami memakai kompos blok. Itu, terbuat dari kotoran hewan (kohe) dicampur dengan cocoviber. “Itu dipakai sebagai media tanamnya,” kata dia.
Panas terik matahari dan tiupan angin warnai aktivitas para pekerja. Begitu telaten sejumlah pekerja yang membuat kompos blok di area bekas proses plan, sebelum digunakan.
Tangan pekerja berlumuran tanah, tapi langkahnya nampak penuh keyakinan. Bukan hanya bekerja, tapi terlibat langsung dalam proses menyembuhkan luka alam.
“Proses reklamasi ini sangat membantu perekonomian keluarga. Sebab, pendapatan upahnya sudah pasti,” kata Fendy salah satu pekerja.
Tantangan dalam pekerjaan ini, ketika menanam di lereng bukit. Baginya, itu membutuhkan skill yang mumpuni.

Supervisor EHS Foresty
PT RAKTA, ketika berada di bekas Mes blok lanud, yang kini telah berubah rindang. (Man/nalarsulut.id)
“Butuh keahlian, dan kesabaran saat menanam pohon di tebing, seperti di Pit Rasik,” kata warga Desa Molobog itu.
Akademisi: Cocofiber dan Cocomesh Pelindung Tanah dari Erosi
Menanggapi itu, akademisi Agus Santoso Budiharso menjelaskan bahwa kedua material tersebut dapat berfungsi sebagai pelindung permukaan tanah dari ancaman erosi.
“Cocofiber dan cocomesh dapat membantu melindungi tanah bekas tambang agar tidak langsung terkena pukulan air hujan. Dengan demikian, laju erosi permukaan dapat ditekan,” ujar Agus, saat dihubungi via WhatsApp, akhir pekan kemarin.
Menurutnya, cocofiber dan cocomesh merupakan produk turunan dari sabut kelapa yang memiliki nilai ekologis karena berasal dari bahan alami. Material ini dapat membantu menahan butiran tanah, menjaga kelembapan permukaan, serta mendukung proses awal pertumbuhan vegetasi pada lahan yang sedang direklamasi.
“Karena berbahan alami, cocofiber dan cocomesh relatif ramah lingkungan. Keduanya dapat terurai secara alami dan tidak menimbulkan dampak negatif seperti material sintetis tertentu,” jelasnya.

Asesor pertanian organik, Dr. Juniawan, S.P., M.Si, menambahkan cocofiber dan cocomesh sangat efektif dalam mengendalikan erosi tanah.
“Mengurangi kehilangan tanah (soil loss) akibat erosi hingga ± 90% bila dibandingkan dengan tanah yang terbuka. Studi spesifik cocomesh di Indonesia, pada lahan agroforestry menunjukkan bahwa angka erosi turun dari 0,105 ke 0,084 kg/ha (fase tanam), sedangkan permukaan (runoff) turun dari 95,23 menjadi 89,41 mm,” bebernya.
Konteks lahan bekas tambang sangat labil, memiliki angka erosi mencapai 100–500 ton/ha/tahun jika tanpa perlindungan.
“Di sini, cocomesh/cocofiber biasanya berfungsi sebagai kontrol awal dan bukan solusi tunggal jangka panjang,” sebutnya.
Cocofiber dan Cocomesh mempunyai kapasitas serap air yang tinggi karena memiliki sifat higroskopis, yakni hingga ±3–5 kali bobot keringnya, sehingga dapat berfungsi sebagai “reservoir mikro” di permukaan tanah.
“Dengan demikian, maka air hujan tidak langsung hilang sebagai limpasan dan tersedia cadangan air bagi tanaman muda,” sambungnya.
Kedua bahan tersebut, mampu mempercepat proses suksesi vegetasi alami karena dapat memperbaiki kondisi tapak pada fase paling kritis, sehingga proses suksesi alami punya “start” yang jauh lebih baik dibanding metode konvensional tanpa perlindungan permukaan.
“Hal ini terjadi karena cocofiber dan cocomesh akan memperbaiki microsite (tempat tumbuh benih), sehingga kelembaban tanah menjadi lebih lama, suhu permukaan tanah turun, mengurangi erosi dan hilangnya bank benih alami,” tandasnya.
Reklamasi Blok Lanud JRBM, Sesuai Aturan
Manager Environmental, Health & Safety, Site Lanut, Yuzri Gunawan, menuturkan saat ini blok lanud telah memasuki fase rencana pasca tambang.
Hal itu, berdasarkan dokumen nomor 257/37/DJB/2019 Kementerian ESDM. Akibat, Covid-19, diperpanjang 2025-2027, sesuai dengan dokumen nomor 295/MB.07/DJB.T/2025 yang diterbitkan 12 Februari 2025 lalu.
“Total bukaan lahan tambang blok lanud seluas 182.15 hektare. Dan sudah ditanami atau direklamasi sekitar 182.07 hektare,” kata Yuzri.
Dia menjelaskan bahwa saat ini kurang pos security dan camp tempat tinggal karyawan yang belum ditanami. “Nantinya, akan dibongkar lalu ditanami,” beber dia.
Dengan optimis, perwakilan JRBM itu, mengatakan bahwa pada akhir tahun 2027 nanti akan diserahkan ke pemerintah. Dan pada saat penyerahan itu pohon yang ditanam sudah ketemu tajuk dengan tajuk lainnya.
“Jadi proses reklamasi Lanud, diawasi oleh ESDM. Sehingga, kami melakukannya sesuai dengan aturan yang berlaku,” katanya.
Proses pertambangan yang dilakukan oleh PT JRBM, memiliki standar yang sesuai dengan regulasi yang berlaku. “Jadi, top soil itu kita gunakan kembali pada saat reklamasi,” kata Dwi Broto, Manager External PT. JRBM, saat memberikan materinya di Hotel Sutan Raja, akhir bulan April lalu.
Perubahan itu ada, perlahan tapi pasti. Kata Fendy paling penting saat reklamasi ialah air, dan disini sangat dipantau dengan baik oleh PT JRBM sebelum menuju ke sungai.
“Pihak JRBM, sangat teliti pada kualitas air. Sehingga, saat reklamasi ini, air sungai tidak pernah dikomplen oleh masyarakat,” tukas warga lingkar tambang itu.
Kepala Pusat Kajian Bencana dan Pengembangan Sumberdaya Alam Universitas Prisma Manado menegaskan bahwa reklamasi pascatambang tidak cukup hanya mengandalkan cocofiber dan cocomesh. Reklamasi harus dipahami sebagai proses pemulihan lahan agar kembali memiliki fungsi ekologis, produktif, dan aman bagi lingkungan.
Menurutnya, salah satu prinsip penting dalam reklamasi adalah pengelolaan lapisan tanah pucuk atau top soil . Dalam praktik pertambangan yang baik, top soil seharusnya dikupas, disimpan dengan benar, kemudian dikembalikan pada tahap reklamasi.
“Dalam aktivitas pertambangan yang benar, lapisan tanah pucuk tidak boleh diperlakukan sebagai material buangan. Top soil harus diselamatkan sejak awal karena di dalamnya terdapat unsur hara, bahan organik, dan kehidupan mikroba tanah yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman,” papar dosen Teknik Geologi Universitas Prisma itu.
Ia menambahkan, pengembalian top soil di atas lapisan regolit atau material penutup lahan bekas tambang menjadi bagian penting dalam membangun kembali media tumbuh tanaman. Setelah itu, teknik pengendalian erosi seperti pemasangan cocomesh, penanaman vegetasi penutup, serta pengaturan drainase dapat dilakukan secara terpadu.
Agus juga menekankan pentingnya pemantauan kualitas tanah dan air pada kawasan reklamasi. Menurutnya, lahan bekas tambang harus diperiksa secara berkala, terutama terkait pH tanah dan air, agar media tumbuh tanaman berada dalam kondisi yang sesuai dan tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan sekitar.
“Jadi, reklamasi bukan hanya soal menutup kembali lubang bekas tambang atau memasang cocomesh. Reklamasi juga harus memastikan pH tanah dan air tetap berada pada kondisi yang sesuai, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik dan lingkungan sekitarnya tetap terlindungi,” tambahnya.
Dengan demikian, penggunaan cocofiber dan cocomesh perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi reklamasi yang lebih luas. Keduanya penting sebagai pelindung tanah dari erosi, tetapi keberhasilan reklamasi tetap sangat ditentukan oleh pengelolaan top soil, perbaikan sifat fisik dan kimia tanah, pengaturan tata air, pemilihan jenis vegetasi, serta pemantauan lingkungan secara berkelanjutan.
Dibalik cerita reklamasi blok lanud yang tengah diseriusi PT. JRBM. Ada tantangan, harapan dan pemulihan. Di tanah yang telah digeruk, perlahan mulai disembuhkan.
Di atas serat kelapa itu bukan hanya tanaman yang tumbuh. Melainkan, ada harapan yang disemai. Alam yang mulai pulih dan masa depan yang kembali hidup. (*)





