NalarSulut—Nama Yusra Alhabsyi kini dikenal luas sebagai Bupati Bolaang Mongondow. Namun di balik posisinya sebagai kepala daerah, tersimpan kisah lama yang menggambarkan perjalanan hidup penuh kesederhanaan dan perjuangan.
Cerita itu diungkapkan oleh Ali Bakari, warga Desa Likupang Kampung Ambon, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara. Ia mengenang masa ketika Yusra masih menjadi aktivis mahasiswa yang aktif memperjuangkan aspirasi masyarakat.
Ali bercerita, sekitar tahun 2000–2001, Yusra yang akrab disapa “Ka Ucan” saat itu menjabat sebagai Ketua Advokasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia cabang Manado. Kala itu mereka bersama-sama membantu masyarakat Desa Lalow, Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolmong, terkait persoalan Hak Guna Usaha (HGU) yang melibatkan perusahaan perkebunan.
Perjalanan Tanpa Uang, Numpang Truck bermuatan Sapi
Dalam perjuangan tersebut, Ali mengaku ada momen yang tak pernah ia lupakan. Saat itu ia dan Yusra hanya memiliki uang Rp10.000 untuk berangkat dari sekretariat PMII di Komo Luar, Kota Manado menuju Desa Lalow.
Sesampainya di Malalayang, mereka bertemu seorang sopir truk yang sedang mengangkut sapi. Dengan gaya ramah dan candaan khasnya, Yusra menyapa sang sopir hingga akhirnya mereka diberi tumpangan, dari Malalayang menuju Desa Lalow.
“Sepanjang perjalanan Ka Ucan terus bercanda dengan sopir. Sampai akhirnya sopir itu jadi akrab dan bahkan menawarkan rokok kepada kami,” kenang Ali.
Namun ada satu kalimat Yusra yang paling diingatnya hingga kini.
“Torang dua turun di ujung Desa Lalow supaya nda dpa tahu kalau nd ada doi (Kami berdua turun di ujung desa Lalow, supaya tidak ketahuan, kalau tak ada uangnya).”
Kalimat sederhana itu, menurut Ali, menggambarkan bagaimana mereka tetap berjuang meski dalam keterbatasan.
Ali juga mengingat bagaimana Yusra tidak sekadar datang menyuarakan aspirasi masyarakat. Saat berada di Desa Lalow, ia bahkan ikut berbaur dengan warga.
Mulai dari membantu memotong padi bersama pemuda desa hingga memancing bersama masyarakat.
Saat itu mereka aktif dalam gerakan masyarakat yang dikenal sebagai Massa Perjuangan Rakyat Lalow (MPRL) yang memperjuangkan hak-hak warga terkait persoalan lahan.
Pernah Nebeng Mobil Jenazah
Cerita unik lainnya terjadi beberapa bulan kemudian. Saat hendak kembali ke Desa Lalow dari Manado, Ali dan Yusra bahkan pernah menumpang mobil jenazah.
Beruntung sopir ambulans tersebut berasal dari suku Mongondow. Yusra lalu berbicara menggunakan bahasa Mongondow hingga akhirnya mereka diberi tumpangan dan diturunkan di Jembatan Kaiya sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan bentor menuju desa.
Dari Aktivis ke Bupati
Bagi Ali, kisah-kisah itu menjadi bukti bahwa kesederhanaan dan kedekatan Yusra dengan masyarakat bukanlah sesuatu yang baru.
Menurutnya, apa yang terlihat hari ini—seperti saat Yusra turun langsung ke lapangan, masuk ke gorong-gorong, atau mendatangi desa-desa—adalah kelanjutan dari karakter yang sudah terbentuk sejak masa mudanya sebagai aktivis.
“Dari dulu memang begitu. Ka Ucan selalu dekat dengan masyarakat dan siap membantu,” ujarnya.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, perjalanan panjang itu membawa Yusra Alhabsyi dari seorang aktivis mahasiswa yang berjuang dengan keterbatasan, hingga dipercaya memimpin Kabupaten Bolaang Mongondow. Sebuah kisah yang bagi banyak orang di tanah Totabuan menjadi inspirasi tentang perjuangan, kesederhanaan, dan pengabdian kepada rakyat. (*)






