NalarSulut—Senja perlahan turun di Desa Siniyung, Kecamatan Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Senin (9/3/2026). Aroma hidangan berbuka puasa mulai tercium, sementara warga berdatangan dengan senyum dan sapaan hangat.
Namun ada yang berbeda sore itu. Tempat berkumpulnya bukan di masjid atau rumah warga, melainkan di sebuah gereja desa. Gereja GMIBM Piniel Siniyung Di tempat itulah Kepala Desa (Sangadi) Oslan Laurens menggelar kegiatan buka puasa bersama, menghadirkan suasana yang begitu sederhana namun penuh makna kemanusiaan.
Di halaman gereja itu, warga duduk berdampingan tanpa sekat. Ada yang Muslim, ada yang Kristen. Semua larut dalam percakapan ringan, tawa kecil, dan rasa saling menghormati yang terasa begitu alami.
Bagi Sangadi Oslan Laurens, kegiatan ini bukan sekadar acara makan bersama. Ia ingin Ramadan menjadi ruang perjumpaan, tempat warga saling mendekatkan diri satu sama lain.
“Di desa ini kita semua keluarga. Ramadan adalah waktu yang baik untuk saling berbagi dan mempererat kebersamaan,” ujarnya dengan nada sederhana.
Saat azan magrib berkumandang, suasana hening sejenak. Warga yang berpuasa mulai berbuka dengan hidangan sederhana yang telah disiapkan bersama. Di sisi lain, warga yang tidak berpuasa ikut membantu melayani makanan dan minuman.
Tak ada rasa canggung, yang ada hanya rasa hangat seperti keluarga besar yang berkumpul.
Toleransi yang Hidup di Desa
Bagi masyarakat Desa Siniyung, kebersamaan lintas agama seperti ini bukan hal baru. Mereka telah lama hidup berdampingan, saling membantu dalam berbagai kegiatan sosial maupun keagamaan.
Menurutnya, kebersamaan seperti ini menjadi pondasi penting bagi kehidupan masyarakat desa yang harmonis. Ia menegaskan bahwa Desa Siniyung selama ini dikenal sebagai desa yang menjunjung tinggi toleransi dan saling menghormati.
“Buka puasa di gereja ini menjadi simbol kuat bahwa toleransi bukan sekadar kata-kata, melainkan kebiasaan yang tumbuh dari hati masyarakat,” kata Oslan.
Seorang warga bahkan mengaku terharu melihat kebersamaan tersebut.
Di tengah berbagai cerita tentang perbedaan yang kadang memecah, Desa Siniyung justru menghadirkan cerita lain: tentang persaudaraan yang tumbuh dari kesederhanaan.
Di sebuah gereja kecil di Dumoga, saat matahari tenggelam dan waktu berbuka tiba, warga desa menunjukkan bahwa kebersamaan jauh lebih kuat daripada perbedaan.
Dan dari tempat sederhana itu, pesan Ramadan terasa begitu jelas: kita semua bisa duduk bersama, saling menghormati, dan tetap menjadi satu keluarga. (*)





