NalarSulut—Lapangan Apolo, Desa Tiberias, Kecamatan Poigar, Sabtu (14/2/2026), menjelma menjadi panggung persatuan dan perayaan kebhinekaan. Ratusan warga dari berbagai latar etnis tumpah ruah menyatu dalam Perayaan Adat Tulude, warisan luhur masyarakat Nusa Utara yang kini kian mengakar kuat di Bolaang Mongondow.
Momen sakral itu dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Bolaang Mongondow, Dony Lumenta, bersama Sekretaris TP PKK Bolmong, Pdt. Syliane Lumenta Pangalila, menandai komitmen Pemerintah Daerah untuk merawat persatuan melalui budaya.
Perayaan dibuka dengan pemotongan Kue Tamo—simbol ikatan persaudaraan dan kebersamaan—yang kemudian dibagikan kepada seluruh hadirin. Di sinilah makna Tulude terasa nyata: tidak ada sekat, semua adalah saudara.
Suasana semakin membara ketika deretan tarian tradisional memukau penonton. Tarian Gunde, Empat Wayer, dan Upase dari Nusa Utara berpadu anggun dengan Tari Dana-Dana khas Bolaang Mongondow yang dibawakan para ibu berhijab—sebuah simbol harmonisasi lintas budaya yang memesona.
Dalam sambutannya yang penuh energi persatuan, Dony Lumenta menegaskan bahwa Tulude bukan sekadar seremoni, melainkan jantung kebhinekaan.
“Acara Tulude ini mengingatkan kita akan pentingnya persatuan dan kebersamaan. Melalui tradisi ini, kita belajar saling menghormati perbedaan, menjaga kerukunan, dan memperkuat identitas budaya. Saya bangga melihat masyarakat Poigar dari berbagai etnis merayakan Tulude dengan penuh semangat. Semoga nilai-nilai ini terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.”
Ia juga menambahkan bahwa Tulude kini telah menembus batas wilayah, menjadi bagian dari kekayaan budaya nasional.
“Di mana pun ada komunitas etnis Nusa Utara, di situ pasti berlangsung perayaan Tulude,” tegasnya.
Turut hadir meramaikan acara Kepala DPPKB Bolmong Julin Ester Papuling, Camat Poigar Daendels Somboadile, jajaran Forkopimcam, dan sejumlah tokoh masyarakat—membuktikan bahwa Tulude adalah magnet pemersatu.
Tulude Desa Tiberias hari itu bukan hanya ritual adat, tetapi deklarasi kebersamaan: bahwa di tengah perbedaan, Bolmong memilih toleransi, kerukunan, dan persatuan sebagai jalan masa depan. (*)






