NalarSulut—Masjid sering kita sebut sebagai pusat kehidupan umat. Tapi dalam praktiknya, tak jarang masjid hanya ramai pada waktu-waktu tertentu—lalu kembali sepi, bahkan terabaikan.
Padahal, merawat masjid tidak selalu membutuhkan program besar atau anggaran rumit. Kadang, cukup dengan sapu, pel, dan kemauan untuk turun tangan bersama.
Itulah yang saya lihat dan alami dalam kegiatan Jum’at Bersih di Masjid Al-Ikhlas Desa Bongkudai. Tidak ada seremoni ataupun euforia. Hanya beberapa mahasiswa KKD dan remaja masjid yang berkumpul sejak pagi, membersihkan masjid sebelum shalat Jumat dilaksanakan.
Kegiatannya sederhana. Menyapu lantai, mengepel ruang utama, membersihkan tempat wudhu, merapikan halaman. Namun justru dalam kesederhanaan itu terasa sesuatu yang penting: rasa memiliki. Masjid tidak diperlakukan sebagai “milik pengurus”, tapi sebagai ruang bersama yang layak dijaga.
Bagi kami, mahasiswa KKD, Jum’at Bersih bukan sekadar menggugurkan program kerja. Ia menjadi cara paling jujur untuk belajar tentang pengabdian. Tidak ada jarak antara mahasiswa dan masyarakat. Kami bekerja bersama, berkeringat bersama, dan tertawa di sela-sela pekerjaan. Dari situ, hubungan sosial terbangun secara alami—tanpa perlu banyak kata.
Remaja masjid pun mengambil peran penting. Mereka tidak hanya hadir, tetapi aktif. Ada yang membersihkan teras, ada yang mengurus halaman, ada yang memastikan perlengkapan ibadah kembali rapi. Dari wajah mereka terlihat bahwa masjid bukan sekadar tempat singgah, melainkan bagian dari identitas mereka.
Yang menarik, kegiatan ini pelan-pelan mengubah suasana masjid. Tidak hanya lebih bersih secara fisik, tetapi juga lebih hidup. Jamaah merasa nyaman. Interaksi antarwarga terasa lebih dekat. Masjid kembali menjadi ruang yang ramah, bukan hanya sakral.
Jum’at Bersih mengajarkan satu hal penting: memakmurkan masjid tidak selalu dimulai dari mimbar, tetapi dari tindakan kecil yang dilakukan bersama-sama. Dari kebiasaan membersihkan, tumbuh nilai gotong royong. Dari kerja bersama, lahir rasa tanggung jawab sosial.
Harapannya, kegiatan seperti ini tidak berhenti ketika masa KKD selesai. Ia bisa menjadi kebiasaan, bahkan budaya. Karena masjid yang terawat bukan hanya hasil kerja fisik, tetapi buah dari kesadaran kolektif umatnya.
Dan mungkin, dari sapu dan pel di setiap Jumat pagi itulah, kita belajar kembali arti kebersamaan yang selama ini perlahan memudar. (*)
Oleh: Muhammad Julianto Sumanta (Mahasiswa Fakultas Syariah IAI Muhammadiyah Kotamobagu)







