Oleh: Afifa Fadila Ligatu (Mahasiswa IAI Muhammadiyah Kotamobagu)
NalarSulut—Di tengah derasnya arus modernisasi yang kian menjauhkan generasi muda dari akar budayanya, sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Dakwah (KKD) Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Kotamobagu hadir membawa ikhtiar kultural di Desa Bongkudai Induk, Kecamatan Modayag Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur.
Melalui pembentukan dan pengaktifan sanggar musik tradisional, mereka berupaya menanamkan kembali kecintaan terhadap warisan seni daerah sejak usia dini.
Kegiatan les sanggar yang dilaksanakan pada masa libur sekolah ini bukan sekadar pengisi waktu luang bagi anak-anak.
Lebih dari itu, program ini dirancang sebagai bentuk pengabdian di bidang pendidikan dan kebudayaan, yang menyentuh aspek karakter, identitas lokal, serta pengembangan potensi diri anak-anak desa.
Sanggar Musik Tradisional “Nada Nusantara” menjadi ruang belajar yang hidup dan menyenangkan bagi anak-anak sekolah dasar. Di sanggar ini, musik tradisional tidak diajarkan secara kaku, melainkan melalui pendekatan edukatif yang ramah anak. Para mahasiswa KKD memposisikan musik sebagai media pembelajaran nilai—tentang kebersamaan, disiplin, dan rasa bangga terhadap budaya bangsa.
Tak hanya instrumen musik, perhatian besar juga diberikan pada seni vokal tradisional. Melalui Sanggar Lagu Daerah “Totabuan Muda”, anak-anak—khususnya siswa MIN 1 Bolaang Mongondow Timur—diperkenalkan kembali pada lagu-lagu daerah Mongondow yang perlahan mulai asing di telinga generasi muda.
Lagu-lagu tersebut tidak sekadar dinyanyikan, tetapi dipelajari maknanya, bahasanya, serta nilai sejarah dan nasihat yang terkandung di dalamnya.
Proses pembelajaran dilakukan secara bertahap dan kontekstual. Anak-anak diajak mengenal bahasa Mongondow sebagai pintu masuk memahami jati diri kedaerahan mereka. Teknik bernyanyi pun disesuaikan dengan usia, sehingga suasana belajar tetap ringan namun bermakna.
Kepala Sekolah MIN 1 Bolaang Mongondow Timur, Nurman Asiari, S.Ag, menegaskan pentingnya lagu daerah sebagai sarana pendidikan budaya. Menurutnya, melalui lagu daerah anak-anak tidak hanya belajar bernyanyi, tetapi juga belajar mencintai bahasa dan identitas lokal Bolaang Mongondow Timur.
Kehadiran sanggar-sanggar ini menjadi bukti bahwa peran mahasiswa di tengah masyarakat tidak hanya terbatas pada agenda akademik atau seremonial. Mereka hadir sebagai jembatan antara generasi lama dan generasi baru, antara tradisi dan masa depan.
Upaya kecil yang dilakukan di Bongkudai Induk ini menyimpan harapan besar: lahirnya generasi muda yang tidak tercerabut dari akar budayanya, serta bangga menjadi pewaris seni dan tradisi Mongondow.
Di tengah tantangan globalisasi, apa yang dilakukan mahasiswa IAIM Kotamobagu ini adalah pengingat bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dimulai dari panggung besar. Ia bisa tumbuh dari sanggar sederhana, dari suara anak-anak yang kembali menyanyikan lagu daerahnya sendiri. (*)







